Website
view
Instagram
view
Phone Number
view
Design Fee
view

About

Delution Design Revolution merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perencanaan arsitektur dan perencanaan desain interior. Dengan lingkup perencanaan yang beridi di jakarta selatan. Didirikan oleh 3 Arsitek muda bernama Muhammad Egha, Sunjaya Askaria, dan Hezby Ryandi yang mempunyai visi yang sama pada tahun 2013 di Jakarta. Pada tahun 2014 kita mendapat Partner baru yang bernama Fahmy Desrizal yang ikut membantu membangun Delution. Kami selalu berusaha menciptakan gagasan yang inovatif dan kreatif dalam menjawab kebutuhan arsitektur dan interior masa kini, dan kami memiliki visi dapat ikut berpartisipasi dalam membangun wajah ruang dan kota menjadi lebih baik, secara nasional maupun internasional. Fokus pada tujuan memaksimalkan dan memberikan yang terbaik dalam segi desain, fungsi serta harmonisasi diantara keduanya dan ikut menciptakan karya yang revolusioner bagi dunia kreatif khususnya arsitektur dan interior.

Selain menjalankan berbagai macam proyek di daerah Lokal (Jakarta), Nasional (Sukabumi dan Bengkulu) hingga International (India). Delution juga telah memperoleh beberapa penghargaan baik secara Nasional maupun Internasional, seperti Special Mention German Design Award 2016 yang diadakan German Design Council di Frankfrut, Bes Design of The Year for Corporate Small Space Category yang diadakan Asosiasi Desain Interior Internasional di Hong-Kong dan Finalis 2A Asia Architecture Awards yang diadakan 2A Magazine di Istanbul. Untuk Nasional Delution berhasil meraih Juara 2 (2nd Award) pada Sayembara Monumen Patung Yesus di Jayapura yang diadakan oleh Ikatan Arsitek Indonesia. Selain penghargaan, Project Delution juga telah terpublikasi oleh beberapa media dan jurnal internasional seperti Korea, China, Germany, French, Arab, Spain, dan Rusia.

The Equalizer

by Delution Design

Views Photos

The Equalizer adalah suatu konsep arsitektur Metafora dari sebuah Irama dalam aktifitas di kehidupan kita, Irama menjadi satu kata kunci bagi Arsitek dalam merancang bangunan yang memiliki 3 Fungsi utama ini yaitu Rumah Produksi, Studio Musik, dan Studio Balet. Arsitek mencoba mencari benang merah dari ketiga kegiatan tersebut dan diperolehlah Kata Irama yang akhirnya diimplementasikan ke dalam Bentuk Equalizer sebagai representasi dari Irama tsb. Naik turunnya sebuah equalizer diartikan sebagai suatu irama yang tidak terlepas dari suatu aktifitas perfilm-an, musik dan tari ballet. Hal ini membuat seolah bangunan ini memiliki Irama seperti kegiatan-kegiatan yang diwadahinya.

Berawal dari Konsep massa yang ada, Arsitek membelah massa menjadi 2 bagian utama, dimana massa pertama memiliki proporsi tinggi keatas, dan massa kedua memiliki proporsi maju kedepan, ini simbolik gerakan tangan seorang Dirigen dalam mengatur irama, jarak antara massa digunakan sebagai akses serta menjadi Koridor berbentuk T yang akhirnya menciptakan efek Triple Cross Ventilation, dimana angin dan Sinar matahari dapat masuk dan keluar lewat 3 jalur yang berbeda.

Bentuk massa kotak yang ada juga disesuiakan dengan jarak struktur yang tipikal sehingga menghasilkan efisiensi biaya saat proses konstruksinya. Bangunan ini dirancang Glassless yang artinya minim kaca, dikarenakan kegiatan utama sebagai Studio Musik dan Studio Produksi Film membutuhkan kondisi ruang yang kedap, sehingga kecilnya kaca akan mengoptimalkan soundproof system dalam bangunan ini. Fasade bangunan yang memiliki kaca kecil memanjang, selain sebagai Optimizer sounproof juga berfungsi sebagai pemblok matahari barat yang berada persis didepan bangunan ini.

Setiap lantai diberikan area komunal terbuka sebagai area interaksi tamu yang datang, sekaligus menjadi Area greenery di bangunan ini. Pada area lantai 1 terdapat cafetaria kecil dilengkapi dengan kolam sebagai air cooler menuju ke dalam koridor utama bangunan. Parkiran dan tembok pembatas dibuat dengan elemen greenery sehingga membuat Iklim mikro di bangunan ini menjadi lebih sejuk. Tembok pada koridor-koridor dalam bangunan dibuat dari pelesteran guratan air terjun sehingga menciptakan suatu kesan yang lebih dingin pada bangunan ini.

Konsep Metafora equalizer diterapkan ke berbagai bentuk elemen pada bangunan ini, sebagai simbol utama, Fasade di-equalizerkan oleh bata tempel yang disorot lampu sebagai elemen penegasnya, disusul dengan bentuk lampu plafond, handle, dekorasi dinding, sign ruang, dan Plafond Ruang balet yang sama yaitu membentuk equalizer.

Elemen green architecture juga diterapkan dalam bangunan ini, selain memperhatikan efek cross ventilation dan greenery, Arsitek juga merancang 85% area Lantai 1 diluar bangunan merupakan area resapan tanah yang diimplementasikan dalam Carport rumput dan grassblock pada area servisnya, sehingga menjadi peresap air hujan yang baik.

Location Jatiwaringin, Jakarta Timur
City Jakarta Timur
Property Type Commercial
Area Size 585 sqm
Design Style Contemporary, Modern, Tropical
Architect / Designer
Delution Architect
Contractor
CRI
Photographer
Fernando Gomulya
Project duration
-
Year of completion
2016

Other project by Delution Design